Minggu, 01 Maret 2015

PROSES NETRALISASI LIMBAH CAIR

A.     JUDUL
Netralisasi Limbah Cair (Parameter pH) dengan metode Titrasi Asam Basa

B.      TUJUAN
Peserta didik dapat melaksanakan proses Netralisasi Limbah Cair (Parameter pH) dengan metode Titrasi Asam Basa

C.      DASAR TEORI
Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa.
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kadua cara  di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik. Selama bertahun-tahun istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan tetatpi, dilihat dari segi yang yang keta, “titrimetrik” lebih baik, karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi.
Khusus reaksi antara asam lemah dan basa lemah tidak dapat digunakan dalam analisis kuantitatif, karena pada titik ekivalen yang terbentuk akan terhidrolisis kembali sehingga titik akhir titrasi tidak dapat diamati. Hal ini yang menyebabkan bahwa titran biasanya merupakan larutan baku elektrolit kuat seperti HCl.
Perhitungan titrasi asam basa didasarkan pada reaksi pentralan, menggunakan dua macam cara, yaitu :
1.      Berdasarkan logika bahwa pada reaksi penetralan, jumlah ekivalen (grek) asam yang bereaksi sama dengan jumlah ekivalen (grek) basa.
Diketahui :
grek (garam ekivalensi) = Volume (V) x Normalitas (N),
Maka pada titik ekivalen :
V asam x N asam = V basa x N basa; atau  V1 x N1 = V2 x N 2

2.      Berdasarkan koefisien reaksi atau pensetaraan jumlah mol
Misalnya untuk reaksi :
Na2B4O7 10H2O + 2HCl → H3BO3 + 2NaCl + 5H2O

D.     ALAT – ALAT DAN BAHAN         
ALAT :
BAHAN :
-   Gelas piala 250 mL
-    Erlenmeyer
-   Labu takar 100 mL
-   Limbah Cair
-   Gelas Piala 1000 mL
-    statif
-   Gelas Arloji
-   Na2B4O710H2O
-   Indikator pH universal
-  Klem buret
-   Spatula
- HCl
-   Gelas ukur 10 mL
-    Buret
-   Pro pipet
-   Indikator PP
-   Corong
-    Pipet volume 20 mL
-   Labu Takar 250 mL

-   Neraca Analitik




E.      LANGKAH KERJA

NO
LANGKAH KERJA IDENTIFIKASI LIMBAH CAIR
1.
Diambil sampel limbah cair kedalam gelas piala 100 mL dari 1000 mL
2.
Dimasukan Indikator pH universal dan ditentukan nilai pH dari limbah tersebut



NO
LANGKAH KERJA STANDARISASI HCl
1.
Dibuat larutan HCl 0,1 N sebanyak 250 mL
2.
Ditimbang 1,6 gram Natrium Borak dalam gelas arloji, dan dilarutkan menggunakan aquadest sebanyak 100 mL pada labu takar sampai tepat tanda
3.
Diambil 20 mL larutan borak  dengan pipet volume dan dimasukan kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan 2 tetes indikator PP, kemudian dititrasi dengan larutan HCl sampai terjadi perubahan warna, dicatat volume dan diulangi sebanyak 2 kali.
4.
Ditentukan standarisasi HCl



NO
LANGKAH KERJA TITRASI LIMBAH CAIR
1.
Dimasukan 10 mL limbah cair kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan 2 tetes        indicator PP
2.
Dititrasi menggunakan Larutan HCl sampai terjadi perubahan warna, dan diulangi sebanyak 3 kali.
3.
Dicek nilai pH dari sampel limbah cair menggunakan indicator Universal
4.
Dihitung jumlah volume HCl untuk menetralkan 1000 mL limbah cair




F.    DATA PENGAMATAN
NO
LANGKAH KERJA IDENTIFIKASI LIMBAH CAIR
PENGAMATAN
1.
Diambil sampel limbah cair kedalam gelas piala 100 mL dari 1000 mL
Limbah berupa air bekas cucian sabun yang berwarna abu-abu keruh
2.
Dimasukan Indikator pH universal dan ditentukan nilai pH dari limbah tersebut
Nilai pH dari air limbah adalah 13 yang berarti bahwa limbah tersebut merupakan basa kuat

NO
LANGKAH KERJA           STANDARISASI HCl
PENGAMATAN
1.
Dibuat larutan HCl 0,1 N sebanyak 250 mL
Untuk membuat larutan HCl 0,1 N 250 mL dibutuhkan 1 gram HCl. HCl tidak berwarna dan cair.
2.
Ditimbang 1,4 gram Natrium Borak dalam gelas arloji, dan dilarutkan menggunakan aquadest sebanyak 100 mL pada labu taar sampai tepat tanda
Natrium Borak berbentuk serbuk berwarna putih,
3.
Diambil 20 mL Natrium Borak dengan pipet volume dan dimasukan kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan 2 tetes indikator PP, kemudian dititrasi dengan larutan HCl sampai terjadi perubahan warna, dicatat volume dan diulangi sebanyak 2 kali.
Larutan Natrium Borak dan HCl tidak berwarna, dan saat ditetesi indicator PP terjadi perubahan warna. Perubahan warna terjadi pada saat Titrasi dari merah muda menjadi tidak berwarna Dari hasil titrasi didapatkan data :
I = 26, 50 mL
II = 26,54 mL
   III = 26,46 mL
Rata-rata = 26,50 mL
4.
Ditentukan standarisasi HCl
Konsentrasi hasil standarisasi adalah   0,0754  N dan KR sebesar :     24,6   %

NO
LANGKAH KERJA TITRASI         LIMBAH CAIR
PENGAMATAN
1.
Dimasukan 10 mL limbah cair kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan 2 tetes        indicator PP
Limbah berupa air bekas cucian  yang berwarna abu-abu keruh dan setelah ditambahkan 2 tetes indicator PP terjadi perubahan warna menjadi merah muda
2.
Dititrasi menggunakan Larutan HCl sampai terjadi perubahan warna, dan diulangi sebanyak 3 kali.
Pada saat Titrasi terjadi perubahan warna dari merh muda menjadi tidak berwarna dan didapatkan data :
I =  60, 70  mL
II = 61, 50 mL
III = 60,20 mL
Rata-rata = 60,80 mL
3.
Dicek nilai pH dari sampel limbah cair menggunakan indicator Universal
Berdasarkan nilai pH yang ditunjukan oleh pH universal diperoleh data I, II, dan III sebesar 7 yang berarti netral
4.
Dihitung jumlah volume HCl untuk menetralkan 1000 mL limbah cair
Volume HCl 0,1 N yang diperlukan untuk menetralkan 1000 mL limbah adalah  6080    mL HCl 0,1 N

G.     PERSAMAAN REAKSI
   Na2B4O7 10H2O + 2HCl → H3BO3 + 2NaCl + 5H2O

H.     PERHITUNGAN (TERLAMPIR)

 I.      PEMBAHASAN
Dalam Praktikum netralisasi limbag cair (parameter pH) dengan metode titrasi asam basa terdapat pembahasan yaitu :
1.   Penggunaan alat (Buret) yang harus dijamin kondisinya agar tidak terjadi kebocoran pada saat titrasi
2.   Ketelitian dalam penentuan titik ekivalen titrasi dalam perubahan warna dari yang berwarna merah muda menjadi tidak berwarna

 J.  KESIMPULAN
Dalam praktikum netralisasi limbag cair (parameter pH) dengan metode titrasi asam basa dengan sampel air bekas cucian sabun yang merupakan basa dapat dinetralkan dengan HCl 0,1 N sebanyak  60,80 mL untuk 100 mL sampel. Sedangkan untuk menetralkan 1000 mL limbah dibutuhkan 6.080 ml  HCl 0,1 N.


Yogyakarta, 18 Juni 2014
Praktikan

( Chandra Eka Prasetya )






Selasa, 10 Februari 2015

PENGERTIAN EKSTRAKSI


Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organic


Ekstraksi cair-cair atau dikenal juga dengan nama ekstraksi solven. Ekstraksi jenis ini merupakan proses yang umum digunakan dalam skala laboratorium maupun skala industri.

Ekstraksi padat-cair merupakan operasi yang melibatkan perpindahan massa antar fasa. Perbedaan aktivitas kimia antara fasa padatan dan fasa pelarut mencerminkan sebarapa jauh sistem berada dari kesetimbangan, sehingga akan menentukan pula laju solut antar fasa.

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Ditjen POM, 1995).

Rafinat: sisa/residu dari proses ekstraksi

Ekstraktor soxhlet adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk mengekstrak suatu senyawa. Dan umumnya metode yang digunakan dalam instrumen ini adalah untuk mengekstrak senyawa yang kelarutannya terbatas dalam suatu pelarut namun jika suatu senyawa mempunyai kelarutan yang tinggi dalam suatu pelarut tertentu, maka biasanya metode filtrasi (penyaringan/pemisahan) biasa dapat digunakan untuk memisahkan senyawa tersebut dari suatu sampel.